Senin, 18 Mei 2015

Menemani Matahari di Bukit Sang Ratu



Matahari belum tiba di puncaknya. Tetapi sinarnya sudah membuat mata menyipit, kaos lembap oleh keringat yang mengalir deras, dan kulit tangan sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Jika punya kesempatan, lari dan berlindung di bawah pohon adalah pilihan yang tepat saat menjajaki tangga menuju Candi Ratu Boko.

Pilihan itu tetap bersarang di kepala saya setelah melewati tidak lebih dari 30 anak tangga dan tiga teras menuju situs abad kesembilan itu.Terik makin menggila, menyilaukan mata tatkala tiba dipuncak situs. Hamparan padang rumput seluas empat kali lapangan sepak bola serta jajaran pepohonan yang berdiri tegak di bawah tebing, seolah menggoda kami para pengunjung untuk berlari dan berlindung di bawah bayang-bayangnya.
 
Hembusan angin juga tidak membantu sama sekali. Si angin menggelitiki kulit, memperkuat keinginan untuk berlari ke bawah pohon, merebahkan tubuh di atas rumput, dan menikmati angin. Melupakan tujuan utama mengunjungi Ratu Boko.
Tapi, tiket paket seharga 50 ribu yang sudah saya beli, akhirnya mengalahkan godaan Sang Angin. Saya melangkah meninggalkan gerbang, menyusuri jalan setapak. Mengacuhkan lambaian daun hijau di atas pohon, cucuran keringat yang menggila, dan  memilih menemani matahari menjelajahi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Jawa Kuno.

Tangga dari batu putih dan teras yang menjadi among tamu, bukan satu-satunya peninggalan yang tersisa di komplek ini. Di ujung jalan setapak, muncul benteng terbuat dari batu putih. Namun, batu itu tidak lagi putih. Warnanya sudah menghitam dimakan usia. Lumut pun tumbuh di beberapa bagiannya. Namun usia tidak membuatnya tampak renta. Benteng itu tetap berdiri dengan gagah, membentang sepanjang puluhan meter, membatasi wilayah satu dengan lainnya.

Tidak banyak yang ditemukan di benteng tua ini. Hanya sebuah parit, gapura, dan tangga yang mengarah pada jalan setapak lainnya. Pohon pun seperti enggan tumbuh di daerah ini. Mungkin ketika Ratu Boko masih dalam masa kejayannya, banyak bangunan yang berdiri di sekitar benteng. Tetapi waktu telah merontokkannya, mengubahnya menjadi reruntuhan tanpa makna yang semakin tua dimakan usia.


Tidak ada informasi apapun di sekitar situs ini. Jalan setapak adalah satu-satunya petunjuk yang mengarahkan para pengunjung untuk menemukan keajaiban lainnya. 

Jalan setapak itu membawa langkah kaki mampir ke satu-satunya peninggalan Ratu Boko yang masih utuh, pendopo. Ruang pertemuan terbuka itu berupa tumpukan batu setinggi satu meter, membentang seluas lapangan sepak bola di dalam sebuah benteng.

Benteng itu dilengkapi dengan dua pintu. Pintu pertama terhubung menuju jalan setapak menuju area kolam. Sementara pintu lainnya terhubung dengan sebuah altar (mungkin) untuk sesaji. Bukit, ribuan jenis pohon yang tumbuh di sekitar situs, hamparan rumput, tampak jelas di depan mata. Langit biru pun seolah mudah digapai.
Dari altar juga, terlihat kolam peninggalan masa silam. Tidak ada yang utuh di wilayah itu. Batu putih yang menjadi material utama kolam sudah terpecah belah. Sebagian area itu sudah tertutup tanah dan berubah menjadi padang rumput. Sementara bagian yang masih utuh, dipenuhi air berwarna kehijauan akibat  tebalnya lumut yang tumbuh hingga ke dasar kolam.

Satu-satunya akses menuju area kolam hanya jalan setapak di pintu masuk pendopo. Jalan ini mengarah pada undakkan batu yang langsung mengarah pada padang rumput. Lagi-lagi, tidak banyak keterangan yang dapat diperoleh di sana. Hanya ada sebuah papan dengan tulisan yang sudah pudar, menyebutkan kolam itu terbagi dua, kolam Utara dan Selatan. Dipisahkan oleh sebuah benteng dengan dua pintu. Sebuah papan kecil pelengkap informasi juga tertancap di salah satu sisi kolam bertuliskan: DILARANG Mandi dan Cuci di Kolam

Pendopo dan kolam menjadi bukti, Ratu Boko merupakan wilayah pemukiman. Mungkin sebuah kerajaan, tetapi bisa juga sebuah biara. Belum ada yang bisa memastikannya hingga saat ini, bahkan para ahli. Maka jangan heran jika tidak banyak informasi yang didapat di lokasi peninggalan, kecuali sebuah tulisan “Keraton Ratu Boko” yang terdapat di pintu masuk.

Internet pun tidak mampu memaparkan muasal situs ini. kamusilmiah.com hanya  menuliskan, sisa-sisa peninggalan Ratu Boko memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Kemungkinan, keraton itu dibangun pada abad ke sembilan oleh Dinasti Syailendra. Dinasti yang kelak mengambil alih kerajaan Hindu Mataram. Sisanya, website itu hanya menulis sisa-sisa peninggalan yang bisa dijumpai di Ratu Boko.
Kolam merupakan keajaiban terakhir yang kami jumpai hari Senin di pertengahan bulan Mei itu. Sebenarnya, masih ada beberapa tempat lagi yang bisa dijelajahi di sana. Hanya saja, sinar matahari awal musim kemarau di Kota Jogja sudah cukup menguras tenaga. Kaki saya sudah terasa seperti jelly, yang artinya istirahat adalah satu-satunya pilihan supaya saya bisa melanjutkan perjalanan menuju peninggalan sejarah selanjutnya.

Meski begitu, ini bukan akhir penjelajahan saya di Ratu Boko. Tempat itu sudah memikat saya dengan pesonanya, membuatnya masuk dalam daftar "Kunjungan Wajib" saat bertandang ke Jogja nanti.Lain kali, saya akan datang tepat sebelum senja datang. Menikmati sisa perjalanan yang tertunda, sambil menunggu warna langit berubah dari biru menjadi orange keemasan.