Senin, 18 Mei 2015

Menemani Matahari di Bukit Sang Ratu



Matahari belum tiba di puncaknya. Tetapi sinarnya sudah membuat mata menyipit, kaos lembap oleh keringat yang mengalir deras, dan kulit tangan sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Jika punya kesempatan, lari dan berlindung di bawah pohon adalah pilihan yang tepat saat menjajaki tangga menuju Candi Ratu Boko.

Pilihan itu tetap bersarang di kepala saya setelah melewati tidak lebih dari 30 anak tangga dan tiga teras menuju situs abad kesembilan itu.Terik makin menggila, menyilaukan mata tatkala tiba dipuncak situs. Hamparan padang rumput seluas empat kali lapangan sepak bola serta jajaran pepohonan yang berdiri tegak di bawah tebing, seolah menggoda kami para pengunjung untuk berlari dan berlindung di bawah bayang-bayangnya.
 
Hembusan angin juga tidak membantu sama sekali. Si angin menggelitiki kulit, memperkuat keinginan untuk berlari ke bawah pohon, merebahkan tubuh di atas rumput, dan menikmati angin. Melupakan tujuan utama mengunjungi Ratu Boko.
Tapi, tiket paket seharga 50 ribu yang sudah saya beli, akhirnya mengalahkan godaan Sang Angin. Saya melangkah meninggalkan gerbang, menyusuri jalan setapak. Mengacuhkan lambaian daun hijau di atas pohon, cucuran keringat yang menggila, dan  memilih menemani matahari menjelajahi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Jawa Kuno.

Tangga dari batu putih dan teras yang menjadi among tamu, bukan satu-satunya peninggalan yang tersisa di komplek ini. Di ujung jalan setapak, muncul benteng terbuat dari batu putih. Namun, batu itu tidak lagi putih. Warnanya sudah menghitam dimakan usia. Lumut pun tumbuh di beberapa bagiannya. Namun usia tidak membuatnya tampak renta. Benteng itu tetap berdiri dengan gagah, membentang sepanjang puluhan meter, membatasi wilayah satu dengan lainnya.

Tidak banyak yang ditemukan di benteng tua ini. Hanya sebuah parit, gapura, dan tangga yang mengarah pada jalan setapak lainnya. Pohon pun seperti enggan tumbuh di daerah ini. Mungkin ketika Ratu Boko masih dalam masa kejayannya, banyak bangunan yang berdiri di sekitar benteng. Tetapi waktu telah merontokkannya, mengubahnya menjadi reruntuhan tanpa makna yang semakin tua dimakan usia.


Tidak ada informasi apapun di sekitar situs ini. Jalan setapak adalah satu-satunya petunjuk yang mengarahkan para pengunjung untuk menemukan keajaiban lainnya. 

Jalan setapak itu membawa langkah kaki mampir ke satu-satunya peninggalan Ratu Boko yang masih utuh, pendopo. Ruang pertemuan terbuka itu berupa tumpukan batu setinggi satu meter, membentang seluas lapangan sepak bola di dalam sebuah benteng.

Benteng itu dilengkapi dengan dua pintu. Pintu pertama terhubung menuju jalan setapak menuju area kolam. Sementara pintu lainnya terhubung dengan sebuah altar (mungkin) untuk sesaji. Bukit, ribuan jenis pohon yang tumbuh di sekitar situs, hamparan rumput, tampak jelas di depan mata. Langit biru pun seolah mudah digapai.
Dari altar juga, terlihat kolam peninggalan masa silam. Tidak ada yang utuh di wilayah itu. Batu putih yang menjadi material utama kolam sudah terpecah belah. Sebagian area itu sudah tertutup tanah dan berubah menjadi padang rumput. Sementara bagian yang masih utuh, dipenuhi air berwarna kehijauan akibat  tebalnya lumut yang tumbuh hingga ke dasar kolam.

Satu-satunya akses menuju area kolam hanya jalan setapak di pintu masuk pendopo. Jalan ini mengarah pada undakkan batu yang langsung mengarah pada padang rumput. Lagi-lagi, tidak banyak keterangan yang dapat diperoleh di sana. Hanya ada sebuah papan dengan tulisan yang sudah pudar, menyebutkan kolam itu terbagi dua, kolam Utara dan Selatan. Dipisahkan oleh sebuah benteng dengan dua pintu. Sebuah papan kecil pelengkap informasi juga tertancap di salah satu sisi kolam bertuliskan: DILARANG Mandi dan Cuci di Kolam

Pendopo dan kolam menjadi bukti, Ratu Boko merupakan wilayah pemukiman. Mungkin sebuah kerajaan, tetapi bisa juga sebuah biara. Belum ada yang bisa memastikannya hingga saat ini, bahkan para ahli. Maka jangan heran jika tidak banyak informasi yang didapat di lokasi peninggalan, kecuali sebuah tulisan “Keraton Ratu Boko” yang terdapat di pintu masuk.

Internet pun tidak mampu memaparkan muasal situs ini. kamusilmiah.com hanya  menuliskan, sisa-sisa peninggalan Ratu Boko memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Kemungkinan, keraton itu dibangun pada abad ke sembilan oleh Dinasti Syailendra. Dinasti yang kelak mengambil alih kerajaan Hindu Mataram. Sisanya, website itu hanya menulis sisa-sisa peninggalan yang bisa dijumpai di Ratu Boko.
Kolam merupakan keajaiban terakhir yang kami jumpai hari Senin di pertengahan bulan Mei itu. Sebenarnya, masih ada beberapa tempat lagi yang bisa dijelajahi di sana. Hanya saja, sinar matahari awal musim kemarau di Kota Jogja sudah cukup menguras tenaga. Kaki saya sudah terasa seperti jelly, yang artinya istirahat adalah satu-satunya pilihan supaya saya bisa melanjutkan perjalanan menuju peninggalan sejarah selanjutnya.

Meski begitu, ini bukan akhir penjelajahan saya di Ratu Boko. Tempat itu sudah memikat saya dengan pesonanya, membuatnya masuk dalam daftar "Kunjungan Wajib" saat bertandang ke Jogja nanti.Lain kali, saya akan datang tepat sebelum senja datang. Menikmati sisa perjalanan yang tertunda, sambil menunggu warna langit berubah dari biru menjadi orange keemasan.

Minggu, 08 September 2013

Susahnya Jadi Harimau Sumatera

"Namaku Melani, jika berkenan tolong hentikan penderitaanku ini. Sesungguhnya, aku tidak sanggup menahan rasa sakitnya."

Jika Melani, Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) betina bisa bicara, mungkin seperti itulah yang akan dia katakan. Bukan hanya kepada keeper dan dokter hewan yang merawatnya saja. Tetapi pada semua orang yang menjenguknya.

Tidak seperti Harimau Sumetara lain yang ada di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Harimau berusia 15 tahun ini, hanya duduk pasif sambil memperhatikan dunia tanpa daya dalam 'kamar rawat inap'-nya berkuruan 1.5 meter x 2 meter.

Sesekali dia menegakkan kepalanya, saat sang keeper memanggilnya. Mata rentanya sendu tak bergairah, memandang daging-daging segar di hadapannya.

Bukan hanya itu, Melani juga masih tampak kurus.Padahal dia sudah menjalani perawatan selama dua bulan. Dalam kondisi normal, bobot harimau betina bisa mencapai 75 kilogram hingga 80 kilogram. Sementara Melani, dia hanya memiliki berat 48.5 kilogram.


Melani. Formalin membuatnya tak berdaya,
 kusam, dan kesakitan
Tidak heran jika tulang-tulang panggulnya tampak menonjol di balik kulit. Bulunya yang berwarna cokelat bergaris hitam tampak kusam. Wajahnya pun tampak sangat lesu, menahan sakit yang menggerogoti organ dalamnya.

Retno, dokter hewan yang menanganinya mengatakan, saat tiba di Rumah Sakit Hewan TSI, berat badan Melani jauh lebih mengkhawatirkan. Dia hanya memiliki berat 44.5 kilogram. Bulunya juga kusam dan berminyak.

"Melani tidak punya napsu makan, sampai sekarang juga makan harus disuapin, dan dia harus mengkonsumsi makanan khusus," katanya.

Makanan khusus yang dimaksud Retno adalah, daging import yang sudah dihaluskan dan mengandung suplemen. Dia juga harus diinfus. Alasannya adalah karena organ dalam Melani tidak berfungsi dengan baik. "Kalau makanannya terlalu halus dia kena diare, kalau potongan daging terlalu besar kotorannya pasti akan tetap daging lagi," jelas nya.

Napsu makan Melani benar-benar hilang. Insting memangsanya menguap. Melihat daging segar pun dia tidak lagi agresif. Untuk makan, para perawat harus menjepitnya hingga berdiri, kemudian menyuapkan makanannya. Tujuannya, agar Melani bisa bertahan hidup

Harimau malang ini mendapatkan perawatan khusus sejak tanggal 22 Juni 2013 lalu. Dia dirawat karena  terlalu banyak mengkonsumsi daging berformalin di rumahnya terdahulu, Kebun Binatang Surabaya (KBS). Melani memang sudah membaik. Tapi kondisinya masih lebih buruk ketimbang harimau lainnya. Kini dia tak berbeda jauh dengan kucing rumahan, yang menggantungkan hidupnya pada sang majikan.

Melani bukan satu-satunya Harimau Sumatera Betina yang memiliki nasib kurang beruntung. Ada dua Harimau Sumatera lagi yang nasibnya tidak lebih baik dari Melani.

Salamah, adalah salah satunya. Kasus kucing besar yang satu ini juga sama mirisnya dengan Melani. Dia harus menjalani amputasi, dan harus rela hidup dengan tiga kaki.


Salamah. Hanya menghabiskan waktu
untuk menutupi kekurangannya dengan berbaring.
Saat berdiri, tampak dia hanya memiliki tiga kaki.
Penderitaan Salamah berawal dari jerat yang melukai kaki depan kanannya. Saat ditemukan, luka di kakinya mulai membusuk.Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter pun membuang satu kakinya.

Nyawa Salamah memang selamat. Tetapi, dengan tiga kaki, dia dikucilkan oleh kawanannya. Penderitaan Salamah juga tidak berhenti di sana, karena tidak satupun jantan yang mau mendekatinya. Tidak heran, jika kini Salamah lebih agresif demi menutupi kekurangannya.


Salamah kini tinggal di penangkaran Harimau Sumatera TSI. Bersama belasan Harimau Sumatera lainnya. Dia tinggal sendiri di salah satu kandang, yang cukup luas. Hanya, dia tidak seaktif harimau betina lainnya.

Waktu-waktunya, hanya dipakai untuk berbaring di tempat tidur kayunya. Menutupi kakinya yang sudah tidak ada, dan menatap garang pada siapapun yang mendekati kandangnya. Dia juga tidak bisa melakukan latihan bersama Harimau Sumatera lainnya.

"Bisa bertengkar. Karena trauma dan minder membuat Salamah menjadi lebih galak dari harimau lain," kata salah satu keepernya kepada saya.

Salamah dan Melani, hanya contoh dari ratusan Harimau Sumatera yang mendapat perlakuan buruk dari manusia. Masih ada Dara, yang juga kehilangan setengah kakinya akibat jerat. Ada Bimo yang pernah diracun, Tupan yang ditombak dan ditembaki. Lalu ada Peter yang mati diracun di kandang konservasinya sendiri, di kebun binatang Taman Rimbo Jambi.

Kondisi memprihatinkan ini, membuat keberadaan Harimau Sumatera terus terdesak. Jumlahnya terus berkurang. Habitat aslinya, yakni hutan hujan dan hutan randah berubah menjadi lahan perkebunan komersial. Jangan heran jika mereka akhirnya berkeliaran dekat dengan daerah pemukiman.


Beberapa Phantera Tigris Sumatrae yang hidup di Rescue Center Taman Safari Indonesia 

Kondisi tersebut, juga menjadi masalah buat para hewan soliter ini. Kedekatan mereka dengan pemukiman dipermasalahkan. Akhirnya banyak penduduk yang ketakutan memburunya, menembaki dan menombaknya seperti yang terjadi pada Tupan. Jika beruntung, dalam keadaan sekarat hewan malang tersebut akan dikirim ke rumah sakit hewan.  


Sementara buat Harimau Sumatera yang kurang beruntung, kulit, cakar dan kumisnya akan diperdagangkan secara ilegal. Dan yang lebih mengenaskan, tubuh-tubuh tak bernyawa mereka diawetkan, agar bisa mejeng garang sebagai taxidermy di rumah para kolektor.

Banyak fakta mengerikan tentang perlakuan manusia kepada hewan-hewan ini. Saat mereka mencari tempat yang lebih baik untuk hidup dan berkembang biak, alam dan manusia merusak habitatnya. Tidak berhenti sampai sana, manusia juga memburu dan membunuhnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah binatang yang sebenarnya?




Minggu, 31 Maret 2013

Cerita Jogja #3 Gudeg si Manis Kesukaan Banyak Orang

"Saya juga gak tau, kenapa bisa suka sama gudeg. Yang pasti, saya memang suka makanan manis," begitulah penuturan salah seorang teman dari Jakarta.
 Dengan pernyataan tersebut, tidak heran ketika dia datang ke Jogja, pasti selalu nyimpang ke Jalan Wijilan, untuk makan gudeg. Tidak lupa juga dirinya membeli oleh-oleh berupa gudeg kendi untuk keluarganya.
 Gambaran tersebut bisa menjadi bukti bahwa gudeg, makanan tradisionalnya kota Jogja, selalu memiliki tempat di hati para pelancong. Padahal, jika dibandingkan dengan makanan lainnya, gudeg tidak pernah lepas dari image rasanya yang manis.
Gudeg buatan Bu Widodo 

 Secara pribadi, saya tidak terlalu menyukai gudeg. Buat saya, ketika gudeg yang rasanya sudah legit harus dikombinasikan dengan nasi yang juga punya kandungan rasa manis, membuat rasanya semakin manis, hingga terkadang membuat kepala sakit. Jika harus makan makanan Jogja, saya pasti akan lebih memilih temannya gudeg, krecek.
 Padahal kalau mau tahu silsilah keluarga, saya orang Jawa tulen, yang seharusnya punya sense lidah manis.
 Tapi apa yang saya anggap kurang cocok di lidah, belum tentu kurang cocok juga di lidah orang. Benarkan? Itulah yang dinamakan selera orang, tidak bisa diganggu gugat.
 Terbukti dengan gudeg. Ketika para pelancong bertandang ke Jogja, panganan yang wajib dibeli selain bakpia, adalah gudeg. Dan teman saya yang namanya tidak disebut itu, hanya satu dari jutaan wisatawan yang wajib makan gudeg saat datang ke Jogja.
 Jika teman saya memberikan jawaban cukup masuk akal karena dia gemar makan manis sehingga gudeg cocok dilidahnya, ada juga yang memberikan jawaban kurang masuk akal ketika saya menanyakan alasan menyukai gudeg.
 "Gudeg itu rasanya Jogja banget, khas, beda sama gudeg di tempat lain walau ngakunya dari Jogja, jadi makan gudeg karena suasana nya mendukung," jawab salah satu pelancong dari Jakarta.
 Jawaban luar biasa ajaib itu juga pada akhirnya membuat saya mengakui, walau rasanya yang legit, gudeg menjadi makanan tradisional yang selalu ada di hati masyarakat Indonesia. Bahkan, dengan menyebut gudeg pun bisa langsung membuat orang teringat kota Jogjakarta, apalagi dengan memakannya.
 Kentalnya gudeg dengan Jogjakarta inilah yang pada akhirnya muncul sentra gudeg di Jalan Wijilan. Disepanjang jalan yang juga berbatasan dengan wilayah keraton inilah terdapat sekitar 15 warung gudeg.
 Uniknya, jarak antara satu warung dengan warung lainnya berdempetan, layaknya kios-kios baju yang semuanya menawarkan batik di Pasar Beringharjo.
 Meskipun sama-sama bersaing menjual gudeg, namun antara satu warung dan warung lainnya tetap rukun dan bersaing sehat, dengan mengandalkan rasa gudeg yang berbeda.
 Misalkan saja Bu Widodo. Wanita yang membuka warung makannya sejak 2008 ini membuat gudeg dengan rasa yang tidak terlalu manis. Sementara temannya gudeg yang saya suka, krecek, dibuat dengan rasa yang sedikit lebih pedas.
Beberapa warung Gudeg di Jalan Wijilan

 "Kalau kata orang-orang yang sudah makan di tempat saya, ciri khasnya ada di kreceknya. Saya memang sengaja membuat kreceknya lebih pedas, karena saya sendiri lebih suka pedas," kata Bu Widodo yang masih setia melayani tamu-tamu yang datang untuk menikmati gudegnya.
 Bu Widodo yang juga orang Jogja asli ini juga mengaku tidak terlalu menyukai manis, sehingga gudegnya pun dibuat sesuai dengan selera lidahnya. Dan rupanya, cukup banyak juga peminat gudeg Bu Widodo ini. Bahkan, beberapa foto artis ibu kota yang pernah singgah ke warungnya terpajang di dinding warung sederhana ini.
 Ada sedikit cerita tentang Sentra Gudeg dari Bu Widodo. Sebelum jadi sentra, hanya ada dua orang penjual gudeg di Jalan Wijilan. Dan kedua penjual tersebut hanya berjualan hingga jam 11 siang saja. Dari sanalah bermunculan penjaja gudeg yang menjajakan gudegnya hingga malam tiba.
 Entah benar atau tidak, hanya saja jika ingin singgah ke Gudeg Bu Widodo, tinggal siapkan uang Rp 8.000 hingga Rp 25.000. Dan gudeg beserta teman-temannya pun akan hadir di hadapan anda.

Cerita Jogja #2 Wisata Murah sambil Ngadem Asik di Trans Jogja

 

Shelter sederhana Trans Jogja, di Jalan Gejayan
Kota Jogja mungkin sudah kehilangan sebagian alat transportasi khasnya. Tapi sejak enam tahun terakhir, Jogja punya alat transportasi lain, yang lebih murah, yang lebih massal, yang juga lebih adem. Apalagi kalau bukan namanya Trans Jogja..
 Inilah transportasi massal yang kini dipakai oleh warga Jogja dan juga para pelancong irit alias backpacker, saat ingin pergi ke satu tempat di Jogja. Pasalnya, selain murah, Trans Jogja juga mencakup hampir semua wilayah di Jogja, dan juga tidak sepadat Trans Jakarta.
Kondektur siap informasi
 "Di sini angkutan umumnya cuma ada bus, Trans, ojeg, sama taksi, mba.." Begitulah pengakuan salah seorang pengguna Trans Jogja, menjawab pertanyaan saya seputar angkutan umum.
 Buat saya, mengoperasikan Trans Jogja dan meniadakan angkot itu solusi cerdas pemerintahnya. Bisa dibayangkan jika angkot turut beroperasi, sementara populasi motor di kota yang lebar jalannya, tidak lebih lebar dari jalan-jalan di komplek perumahan itu, turut mengerahkan sejumlah armada angkot. Pasti macetnya bakal lebih kejam dari Ibu Kota.
 Menggunakan Trans Jogja, bagi saya juga sangat menyenangkan. Sambil jalan-jalan keliling Jogja yang panasnya menyengat, saya bisa sekaligus mendinginkan badan. Ketimbang harus mengeluarkan uang hingga puluhan ribu untuk membayar taksi, lebih baik jalan-jalan irit dengan hanya mengeluarkan ongkos Rp 3.000 saja.

 Terlebih para penjaga shelter nya yang siap menerangkan kode-kode Trans Jogja serta arah tujuannya, dengan lugas dan tentunya ramah seperti biasanya. Jadi ketika saya ditanya harus memilih naik Trans di Jogja atau di Jakarta, saya pasti akan menjawab cepat Trans Jogja.
Kondisi Trans Jogja  sehari-hari
 Armada Trans Jogja pun tak sebanyak Trans Jakarta, karena kotanya pun tidak sebesar Jakarta.
 Ada enam koridor Trans Jogja yang dioperasikan sejak pukul 06.00 pagi sampai pukul 21.00 malam. Ada tiga jalur Trans Jogja yang beroperasi, yaitu IA, IIA, dan IIIA. Masing-masing jalur memiliki sekitar delapan bus, yang ukurannya sedikit lebih besar dari mini bus.
 Cukup lumayan kan transportasi umum ini? Selain bisa keliling-keliling Kota Jogja dengan ongkos hemat, kita juga bisa sekalian 'ngadem'. Karena jarak shelter satu dan lainnya lumayan jauh juga, dan akan terasa makin jauh saat menempuhnya dengan jalan kaki di bawah terik matahari.
 Meskipun begitu, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan ketika berniat naik Trans Jogja. Buat para perempuan, sebaiknya hindari memakai rok span super ketat, karena langkah yang dibutuhkan antara shelter dan pintu bus, lumayan lebar. Akan jadi tontonan menarik jika saltum (salah kostum) saat naik Trans Jogja ini.
 Selain itu, sepatu nyaman juga wajib digunakan. Karena tidak selamanya kita langsung mendapatkan tempat duduk nyaman. Ketika tempat duduk penuh, tentu saja kita wajib berdiri dengan tangan bergelantungan. Apa jadinya jika sepatu yang dipakai kurang nyaman? Dan bagi yang tidak tahan sama udara panas, sebaiknya sedia kipas. Kipas ini adalah senjata wajib yang bisa dikeluarkan saat menunggu Trans Jogja di shelter. Karena tidak semua shelter memasang kipas angin untuk memanjakan para calon penumpang.
 Nah, sekarang pilih mana? Wisata murah meriah dengan Trans Jogja atau jalan-jalan mahal di Jogja dengan taksi? Selamat berlibur..

Jumat, 29 Maret 2013

Cerita Jogja #1 Identitas Yang Mulai Terkikis Waktu


  Sinar mataharinya menyengat, menusuk hingga ke pori-pori kulit, udara begitu panas, yah memang begitulah kondisi kota kesultanannya Hamengkubuwono. Sebagai orang Bandung, saya merasa bahwa udara di Jogjakarta sangat tak bersahabat. Walaupun kondisi udara Bandung saat ini pun sudah terasa panas, namun saya pikir Jogja punya suhu dua kali lipatnya Bandung.
 Meskipun 
begitu, saya merasa cukup senang bisa kembali menapaki Jogja setelah bertahun-tahun lamanya tidak menyambanginya.
 Lama tidak ke Jogja, membuat saya merasa sedikit asing. Mulai dari lalu lintasnya yang kian padat. Motor-motor memenuhi jalanan yang ukurannya tidak terlalu lebar. Sepeda-sepeda yang beberapa tahun lalu kerap memanjakan pemandangan di sepanjang jalanan kota, tidak lagi terlihat.
 Kemanakah sepeda-sepeda yang dulu kerap digunakan para pelajar dan pekerja? Ya, alat transportasi tersebut tampaknya kini sudah menjadi barang antik, yang hanya disimpan dalam gudang atau garasi. Sebagai gantinya, motorlah yang menjadi transportasi utama para warga Jogja saat ini. Era kejayaan sepeda di kota tua tersebut kini sudah termakan usia. Sayang...
 Jogja kini tidak ada bedanya dengan Bandung. Kondisi lalu lintasnya yang kian padat tak terkendali, bangunan-bangunan art deco nya pun kini turut menjadi salah satu hal yang turut mengalami masa diambang kepunahan. Penggantinya? Siapa lagi kalau bukan bangunan baru, lebih modern, lebih tidak berseni, tetapi lebih tinggi.
Kantor Pos Pusat Kota Jogja
 Walau tampak lebih modern, lebih mentereng, namun bangunan-bangunan inilah yang menghilangkan identitas kota Jogja. Kalau saja kantor pos, benteng vredeburg, gapura batas wilayan kesultanan, sampai keraton tidak dipertahankan hingga sekarang, Jogja akan benar-benar kehilangan jati dirinya. Dan julukan Daerah Istimewa tersebut pun tampaknya akan turut dikubur.
 Tidak ada yang bisa menyalahkan dengan kondisi tersebut, toh identitas  Bandung sebagai Kota Kembang pun  kian waktu, kian terkikis. Bangunan-bangunan Belanda yang memiliki nilai seni tinggi pun kini mulai hilang satu per satu. Tampaknya, Jogja mengalami hal yang sama dengan Bandung.
salah satu hasil karya seni
  Walau bangunan etnik dan bangunan art deco mulai menghilang, walaupun sepeda kini sudah tergantikan dengan asap knalpot, masih tersimpan sekelumit identitas Jogja yang masih dipertahankan oleh warga kotanya.
 Keramahan. Perilaku inilah yang masih dipertahankan warga Jogja hingga saat ini. Cobalah bertanya apa pun pada warga Jogja, maka jawaban akan dengan mudah di dapatkan. Sebagai bonusnya, tutur kata halus, intonasi nada lembut, dan senyuman tulus, akan turut diperoleh secara cuma-cuma.
 Bukan hanya itu, para seniman jalanan yang selalu menghasilkan sebuah karya seni bernilai pun masih banyak ditemukan di kota Jogja. Kalaupun tidak menemukan sang maestro,  dengan melihat salah satu karyanya di jalan, sudah bisa mencicipi sedikit rasa khas Kota Jogja.
 Tidak salah jika dengan keramahan warga Jogjakarta kepada tamu-tamunya, serta aksi seniman-senimannya membuat kerinduan akan Kota Gudeg itu timbul, sehingga kembali ke Jogjakarta adalah sebuah kesempatan emas yang patut ditunggu dan dihargai.