Jumat, 29 Maret 2013

Cerita Jogja #1 Identitas Yang Mulai Terkikis Waktu


  Sinar mataharinya menyengat, menusuk hingga ke pori-pori kulit, udara begitu panas, yah memang begitulah kondisi kota kesultanannya Hamengkubuwono. Sebagai orang Bandung, saya merasa bahwa udara di Jogjakarta sangat tak bersahabat. Walaupun kondisi udara Bandung saat ini pun sudah terasa panas, namun saya pikir Jogja punya suhu dua kali lipatnya Bandung.
 Meskipun 
begitu, saya merasa cukup senang bisa kembali menapaki Jogja setelah bertahun-tahun lamanya tidak menyambanginya.
 Lama tidak ke Jogja, membuat saya merasa sedikit asing. Mulai dari lalu lintasnya yang kian padat. Motor-motor memenuhi jalanan yang ukurannya tidak terlalu lebar. Sepeda-sepeda yang beberapa tahun lalu kerap memanjakan pemandangan di sepanjang jalanan kota, tidak lagi terlihat.
 Kemanakah sepeda-sepeda yang dulu kerap digunakan para pelajar dan pekerja? Ya, alat transportasi tersebut tampaknya kini sudah menjadi barang antik, yang hanya disimpan dalam gudang atau garasi. Sebagai gantinya, motorlah yang menjadi transportasi utama para warga Jogja saat ini. Era kejayaan sepeda di kota tua tersebut kini sudah termakan usia. Sayang...
 Jogja kini tidak ada bedanya dengan Bandung. Kondisi lalu lintasnya yang kian padat tak terkendali, bangunan-bangunan art deco nya pun kini turut menjadi salah satu hal yang turut mengalami masa diambang kepunahan. Penggantinya? Siapa lagi kalau bukan bangunan baru, lebih modern, lebih tidak berseni, tetapi lebih tinggi.
Kantor Pos Pusat Kota Jogja
 Walau tampak lebih modern, lebih mentereng, namun bangunan-bangunan inilah yang menghilangkan identitas kota Jogja. Kalau saja kantor pos, benteng vredeburg, gapura batas wilayan kesultanan, sampai keraton tidak dipertahankan hingga sekarang, Jogja akan benar-benar kehilangan jati dirinya. Dan julukan Daerah Istimewa tersebut pun tampaknya akan turut dikubur.
 Tidak ada yang bisa menyalahkan dengan kondisi tersebut, toh identitas  Bandung sebagai Kota Kembang pun  kian waktu, kian terkikis. Bangunan-bangunan Belanda yang memiliki nilai seni tinggi pun kini mulai hilang satu per satu. Tampaknya, Jogja mengalami hal yang sama dengan Bandung.
salah satu hasil karya seni
  Walau bangunan etnik dan bangunan art deco mulai menghilang, walaupun sepeda kini sudah tergantikan dengan asap knalpot, masih tersimpan sekelumit identitas Jogja yang masih dipertahankan oleh warga kotanya.
 Keramahan. Perilaku inilah yang masih dipertahankan warga Jogja hingga saat ini. Cobalah bertanya apa pun pada warga Jogja, maka jawaban akan dengan mudah di dapatkan. Sebagai bonusnya, tutur kata halus, intonasi nada lembut, dan senyuman tulus, akan turut diperoleh secara cuma-cuma.
 Bukan hanya itu, para seniman jalanan yang selalu menghasilkan sebuah karya seni bernilai pun masih banyak ditemukan di kota Jogja. Kalaupun tidak menemukan sang maestro,  dengan melihat salah satu karyanya di jalan, sudah bisa mencicipi sedikit rasa khas Kota Jogja.
 Tidak salah jika dengan keramahan warga Jogjakarta kepada tamu-tamunya, serta aksi seniman-senimannya membuat kerinduan akan Kota Gudeg itu timbul, sehingga kembali ke Jogjakarta adalah sebuah kesempatan emas yang patut ditunggu dan dihargai.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar