"Namaku Melani, jika berkenan tolong hentikan penderitaanku ini. Sesungguhnya, aku tidak sanggup menahan rasa sakitnya."
Jika Melani, Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) betina bisa bicara, mungkin seperti itulah yang akan dia katakan. Bukan hanya kepada keeper dan dokter hewan yang merawatnya saja. Tetapi pada semua orang yang menjenguknya.
Tidak seperti Harimau Sumetara lain yang ada di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Harimau berusia 15 tahun ini, hanya duduk pasif sambil memperhatikan dunia tanpa daya dalam 'kamar rawat inap'-nya berkuruan 1.5 meter x 2 meter.
Sesekali dia menegakkan kepalanya, saat sang keeper memanggilnya. Mata rentanya sendu tak bergairah, memandang daging-daging segar di hadapannya.
Bukan hanya itu, Melani juga masih tampak kurus.Padahal dia sudah menjalani perawatan selama dua bulan. Dalam kondisi normal, bobot harimau betina bisa mencapai 75 kilogram hingga 80 kilogram. Sementara Melani, dia hanya memiliki berat 48.5 kilogram.
![]() |
| Melani. Formalin membuatnya tak berdaya, kusam, dan kesakitan |
Retno, dokter hewan yang menanganinya mengatakan, saat tiba di Rumah Sakit Hewan TSI, berat badan Melani jauh lebih mengkhawatirkan. Dia hanya memiliki berat 44.5 kilogram. Bulunya juga kusam dan berminyak.
"Melani tidak punya napsu makan, sampai sekarang juga makan harus disuapin, dan dia harus mengkonsumsi makanan khusus," katanya.
Makanan khusus yang dimaksud Retno adalah, daging import yang sudah dihaluskan dan mengandung suplemen. Dia juga harus diinfus. Alasannya adalah karena organ dalam Melani tidak berfungsi dengan baik. "Kalau makanannya terlalu halus dia kena diare, kalau potongan daging terlalu besar kotorannya pasti akan tetap daging lagi," jelas nya.
Napsu makan Melani benar-benar hilang. Insting memangsanya menguap. Melihat daging segar pun dia tidak lagi agresif. Untuk makan, para perawat harus menjepitnya hingga berdiri, kemudian menyuapkan makanannya. Tujuannya, agar Melani bisa bertahan hidup
Harimau malang ini mendapatkan perawatan khusus sejak tanggal 22 Juni 2013 lalu. Dia dirawat karena terlalu banyak mengkonsumsi daging berformalin di rumahnya terdahulu, Kebun Binatang Surabaya (KBS). Melani memang sudah membaik. Tapi kondisinya masih lebih buruk ketimbang harimau lainnya. Kini dia tak berbeda jauh dengan kucing rumahan, yang menggantungkan hidupnya pada sang majikan.
Melani bukan satu-satunya Harimau Sumatera Betina yang memiliki nasib kurang beruntung. Ada dua Harimau Sumatera lagi yang nasibnya tidak lebih baik dari Melani.
Salamah, adalah salah satunya. Kasus kucing besar yang satu ini juga sama mirisnya dengan Melani. Dia harus menjalani amputasi, dan harus rela hidup dengan tiga kaki.
![]() |
| Salamah. Hanya menghabiskan waktu untuk menutupi kekurangannya dengan berbaring. Saat berdiri, tampak dia hanya memiliki tiga kaki. |
Nyawa Salamah memang selamat. Tetapi, dengan tiga kaki, dia dikucilkan oleh kawanannya. Penderitaan Salamah juga tidak berhenti di sana, karena tidak satupun jantan yang mau mendekatinya. Tidak heran, jika kini Salamah lebih agresif demi menutupi kekurangannya.
Salamah kini tinggal di penangkaran Harimau Sumatera TSI. Bersama belasan Harimau Sumatera lainnya. Dia tinggal sendiri di salah satu kandang, yang cukup luas. Hanya, dia tidak seaktif harimau betina lainnya.
Waktu-waktunya, hanya dipakai untuk berbaring di tempat tidur kayunya. Menutupi kakinya yang sudah tidak ada, dan menatap garang pada siapapun yang mendekati kandangnya. Dia juga tidak bisa melakukan latihan bersama Harimau Sumatera lainnya.
"Bisa bertengkar. Karena trauma dan minder membuat Salamah menjadi lebih galak dari harimau lain," kata salah satu keepernya kepada saya.
Salamah dan Melani, hanya contoh dari ratusan Harimau Sumatera yang mendapat perlakuan buruk dari manusia. Masih ada Dara, yang juga kehilangan setengah kakinya akibat jerat. Ada Bimo yang pernah diracun, Tupan yang ditombak dan ditembaki. Lalu ada Peter yang mati diracun di kandang konservasinya sendiri, di kebun binatang Taman Rimbo Jambi.
Kondisi memprihatinkan ini, membuat keberadaan Harimau Sumatera terus terdesak. Jumlahnya terus berkurang. Habitat aslinya, yakni hutan hujan dan hutan randah berubah menjadi lahan perkebunan komersial. Jangan heran jika mereka akhirnya berkeliaran dekat dengan daerah pemukiman.
![]() |
| Beberapa Phantera Tigris Sumatrae yang hidup di Rescue Center Taman Safari Indonesia |
Kondisi tersebut, juga menjadi masalah buat para hewan soliter ini. Kedekatan mereka dengan pemukiman dipermasalahkan. Akhirnya banyak penduduk yang ketakutan memburunya, menembaki dan menombaknya seperti yang terjadi pada Tupan. Jika beruntung, dalam keadaan sekarat hewan malang tersebut akan dikirim ke rumah sakit hewan.
Sementara buat Harimau Sumatera yang kurang beruntung, kulit, cakar dan kumisnya akan diperdagangkan secara ilegal. Dan yang lebih mengenaskan, tubuh-tubuh tak bernyawa mereka diawetkan, agar bisa mejeng garang sebagai taxidermy di rumah para kolektor.
Banyak fakta mengerikan tentang perlakuan manusia kepada hewan-hewan ini. Saat mereka mencari tempat yang lebih baik untuk hidup dan berkembang biak, alam dan manusia merusak habitatnya. Tidak berhenti sampai sana, manusia juga memburu dan membunuhnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah binatang yang sebenarnya?











