Matahari belum tiba di puncaknya. Tetapi sinarnya sudah
membuat mata menyipit, kaos lembap oleh keringat yang mengalir deras, dan kulit
tangan sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Jika punya kesempatan, lari dan berlindung di
bawah pohon adalah pilihan yang tepat saat menjajaki tangga menuju Candi Ratu
Boko.
Pilihan itu tetap bersarang di kepala saya setelah melewati tidak lebih dari 30 anak tangga dan tiga teras menuju situs abad kesembilan itu.Terik makin menggila, menyilaukan mata tatkala tiba dipuncak situs. Hamparan padang rumput seluas empat kali lapangan sepak bola serta jajaran pepohonan yang berdiri tegak di bawah tebing, seolah menggoda kami para pengunjung untuk berlari dan berlindung di bawah bayang-bayangnya.
Pilihan itu tetap bersarang di kepala saya setelah melewati tidak lebih dari 30 anak tangga dan tiga teras menuju situs abad kesembilan itu.Terik makin menggila, menyilaukan mata tatkala tiba dipuncak situs. Hamparan padang rumput seluas empat kali lapangan sepak bola serta jajaran pepohonan yang berdiri tegak di bawah tebing, seolah menggoda kami para pengunjung untuk berlari dan berlindung di bawah bayang-bayangnya.
Hembusan angin juga tidak membantu sama sekali. Si angin
menggelitiki kulit, memperkuat keinginan untuk berlari ke bawah pohon,
merebahkan tubuh di atas rumput, dan menikmati angin. Melupakan tujuan utama mengunjungi
Ratu Boko.
Tapi, tiket paket seharga 50 ribu yang sudah saya beli,
akhirnya mengalahkan godaan Sang Angin. Saya melangkah meninggalkan gerbang,
menyusuri jalan setapak. Mengacuhkan lambaian daun hijau di atas pohon, cucuran keringat yang menggila, dan memilih menemani matahari menjelajahi sisa-sisa
peninggalan Kerajaan Jawa Kuno.
Tangga dari batu putih dan teras yang menjadi among tamu, bukan satu-satunya peninggalan yang tersisa di komplek ini. Di ujung jalan setapak, muncul benteng terbuat dari batu putih. Namun, batu itu tidak lagi putih. Warnanya sudah menghitam dimakan usia. Lumut pun tumbuh di beberapa bagiannya. Namun usia tidak membuatnya tampak renta. Benteng itu tetap berdiri dengan gagah, membentang sepanjang puluhan meter, membatasi wilayah satu dengan lainnya.
Tangga dari batu putih dan teras yang menjadi among tamu, bukan satu-satunya peninggalan yang tersisa di komplek ini. Di ujung jalan setapak, muncul benteng terbuat dari batu putih. Namun, batu itu tidak lagi putih. Warnanya sudah menghitam dimakan usia. Lumut pun tumbuh di beberapa bagiannya. Namun usia tidak membuatnya tampak renta. Benteng itu tetap berdiri dengan gagah, membentang sepanjang puluhan meter, membatasi wilayah satu dengan lainnya.
Tidak banyak yang ditemukan di benteng tua ini. Hanya sebuah
parit, gapura, dan tangga yang mengarah pada jalan setapak lainnya. Pohon pun
seperti enggan tumbuh di daerah ini. Mungkin ketika Ratu Boko masih dalam masa kejayannya, banyak bangunan yang berdiri di sekitar benteng. Tetapi waktu telah merontokkannya, mengubahnya menjadi reruntuhan tanpa makna yang semakin tua dimakan usia.
Tidak ada informasi apapun di sekitar situs ini. Jalan
setapak adalah satu-satunya petunjuk yang mengarahkan para pengunjung untuk
menemukan keajaiban lainnya.
Jalan setapak itu membawa langkah kaki mampir ke satu-satunya peninggalan Ratu Boko yang masih utuh, pendopo. Ruang pertemuan terbuka itu berupa tumpukan batu setinggi satu meter,
membentang seluas lapangan sepak bola di dalam sebuah benteng.
Jalan setapak itu membawa langkah kaki mampir ke satu-satunya peninggalan Ratu Boko yang masih utuh, pendopo. Ruang pertemuan terbuka itu berupa tumpukan batu setinggi satu meter,
membentang seluas lapangan sepak bola di dalam sebuah benteng.
Benteng itu dilengkapi dengan dua pintu. Pintu pertama
terhubung menuju jalan setapak menuju area kolam. Sementara pintu lainnya terhubung
dengan sebuah altar (mungkin) untuk sesaji. Bukit, ribuan jenis pohon yang
tumbuh di sekitar situs, hamparan rumput, tampak jelas di depan mata.
Langit biru pun seolah mudah digapai.

Dari altar juga, terlihat kolam peninggalan masa silam.
Tidak ada yang utuh di wilayah itu. Batu putih yang menjadi material utama
kolam sudah terpecah belah. Sebagian area itu sudah tertutup tanah dan berubah
menjadi padang rumput. Sementara bagian yang masih utuh, dipenuhi air berwarna kehijauan akibat tebalnya lumut yang tumbuh hingga ke dasar kolam.
Satu-satunya akses menuju area kolam hanya jalan setapak di
pintu masuk pendopo. Jalan ini mengarah pada undakkan batu yang langsung
mengarah pada padang rumput. Lagi-lagi, tidak banyak keterangan yang dapat
diperoleh di sana. Hanya ada sebuah papan dengan tulisan yang sudah pudar,
menyebutkan kolam itu terbagi dua, kolam Utara dan Selatan. Dipisahkan oleh
sebuah benteng dengan dua pintu. Sebuah papan kecil pelengkap informasi juga tertancap di salah satu sisi kolam
bertuliskan: DILARANG Mandi dan Cuci di
Kolam.
Pendopo dan kolam menjadi bukti, Ratu Boko merupakan wilayah pemukiman. Mungkin sebuah kerajaan, tetapi bisa juga sebuah biara. Belum ada yang bisa memastikannya hingga saat ini, bahkan para ahli. Maka jangan heran jika tidak banyak informasi yang didapat di lokasi peninggalan, kecuali sebuah tulisan “Keraton Ratu Boko” yang terdapat di pintu masuk.
Pendopo dan kolam menjadi bukti, Ratu Boko merupakan wilayah pemukiman. Mungkin sebuah kerajaan, tetapi bisa juga sebuah biara. Belum ada yang bisa memastikannya hingga saat ini, bahkan para ahli. Maka jangan heran jika tidak banyak informasi yang didapat di lokasi peninggalan, kecuali sebuah tulisan “Keraton Ratu Boko” yang terdapat di pintu masuk.
Internet pun tidak mampu memaparkan muasal situs ini. kamusilmiah.com hanya menuliskan, sisa-sisa peninggalan Ratu Boko
memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Kemungkinan, keraton itu
dibangun pada abad ke sembilan oleh Dinasti Syailendra. Dinasti yang kelak
mengambil alih kerajaan Hindu Mataram. Sisanya, website itu hanya menulis
sisa-sisa peninggalan yang bisa dijumpai di Ratu Boko.
Kolam merupakan keajaiban terakhir yang kami jumpai hari
Senin di pertengahan bulan Mei itu. Sebenarnya, masih ada beberapa tempat lagi
yang bisa dijelajahi di sana. Hanya saja, sinar matahari awal musim kemarau di
Kota Jogja sudah cukup menguras tenaga. Kaki saya sudah terasa seperti jelly,
yang artinya istirahat adalah satu-satunya pilihan supaya saya bisa melanjutkan
perjalanan menuju peninggalan sejarah selanjutnya.
Meski begitu, ini bukan akhir penjelajahan saya di Ratu Boko. Tempat itu sudah memikat saya dengan pesonanya, membuatnya masuk dalam daftar "Kunjungan Wajib" saat bertandang ke Jogja nanti.Lain kali, saya akan datang tepat sebelum senja datang. Menikmati sisa perjalanan yang tertunda, sambil menunggu warna langit berubah dari biru menjadi orange keemasan.
Meski begitu, ini bukan akhir penjelajahan saya di Ratu Boko. Tempat itu sudah memikat saya dengan pesonanya, membuatnya masuk dalam daftar "Kunjungan Wajib" saat bertandang ke Jogja nanti.Lain kali, saya akan datang tepat sebelum senja datang. Menikmati sisa perjalanan yang tertunda, sambil menunggu warna langit berubah dari biru menjadi orange keemasan.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar